cerpen tentang senior vs junior

Kunci Jawaban cerpen tentang senior vs junior
Kami ada 1 jawaban atas cerpen tentang senior vs junior. Silakan baca jawaban selengkapnya di bawah:





Jawaban: #1:
.Tidak. Akuitu memang tak terima apa-apa tentang mereka, maya semua. Dunia maya telah menyata dalam kehidupan yang mengepungku. Semuanya maya. Itulah sebabnya aku selalu rindu. Jiwaku gelisah karena kesunyian yang mengepung. Kesunyian yang mengungkungku... Senior, junior... Inikah hidup yang kuhadapi saat ini?....
Menimbah ilmu di sebuah sekolah berasrama yang letaknya sangat strategis di pusat perkotaan yang memang telah diakui sebagai sekolah favorit dan bonafit yang diimpikan banyak orang. Yaa.. inilah sekolah kami, walaupun masih tergolong sekolah baru, prestasi dan pencapaian sekolah kami bisa dikatakan sangat luar biasa. Bayangkan saja, dari lima-ribuan calon yang menginginkan bersekolah disini, hanya diambil sebanyak seratus orang saja yang akan sah dilantik menjadi siswa. Jelas, bahwa aku itu bukan orang sembarangan, aku terpilih diantara banyak sekali orang yang antusias memasuki sekolah ini. Memang sih, aku belum menjadi bintang kejora diantara bintang-bintang yang bersinar, tapi pelajaran di dalam kelas juga tantangan hidup bersama makhluk dengan IQ diatas rata-rata sebenarnya dapat ku jalani dan ku nikmati.
Sekolah yang ku banggakan ini menerapkan senioritas, baik di kelas, kantin maupun asrama dan dimana pun. Problemnya emang apa?? Emang sihh, sebenarnya bukan masalah besar jika hanya sebatas junior yang menghormati senior. But, apa jadinya bila saat bersama pun seperti ada pembatas yang memisahkan jarak diantara senior dan junior. Kita seperti berjalan sendiri-sendiri. Senior jarang sekali mengarahkan junior dan berbagi tentang ilmu yang didapatkan dalam setahun yang lalu ketika masih menjadi junior.
Senior seakan ingin selalu menunjukkan bahwa inilah kami senior yang lebih hebat dibanding dengan junior yang nggak ada apa-apanya. Briefing, yaa.. dengan terang-terangan senior meremehkan junior dan menunjukkan bahwa dirinya yang paling pantas dan benar. Tapi dengan rasa hormat junior pada senior, mereka mencoba menguasai diri dan tindakan dan hasilnya memang tak separah yang di katakan senior bahkan bisa dibilang berhasil.
Dalam obrolan yang terpisahkan junior sering membicarakan para senior dibelakang mereka dan yakinlah juga para seniormembicaran junior mereka dibelakang. Entah mengapa ini bukan seperti sebuah ikatan persaudaraan tetapi seperti sebuah kompetisi senior vs junior.
***
Kling..kling.. (bunyi smartphonekuberdering ). Ternyata notification doang dari facebookku. Kucoba meraihnya dengan meraba-raba dibawah bantal yang ada di sekitar springbadku. Aku terkejut,.. ternyata notif dari dia yang membangunkanku, Weedeww.... masih pukul 2 pagi ternyata..“Ngapain nih anak online di tengah malam.., mentang-mentang ini hari libur kali yaa..” gumamku dalam hati. Aku penasaran dengan notif tersebut, apalagi dengan orangnya, junior yang baru-baru ini kukenal. Sambil menggeser-geser layar handponeku, rasa ingin tahuku muncultentang anak yang satu ini, yah.. banyak senior yang membawa anak ini dalam pembicaraan, katanya cerdas,keren, apalagi karena kesopanannya.
Berniat mengetahui tentang anak ini, awalnya kucoba menulis sesuatu di-wall-nya, “TFC ya dek.” Belum semenit, handphone kembali berdering.
“OK Bang..”
Awalnya, anak ini terkesansangat baik dan enak diajak bergaul, ya..mungkin karena efek dari senioritas, suka tidak suka, mau atau tidak mau budaya TBC (Tertib Budaya Ceria) harus tetap diterapkan, baik libur,di sekolah, di media sosial, apalagi di dunia nyata. Memang ada enaknya bagi senior (merasa terhormat ataupun dihormati), namun kalau dipikir-pikir, junior yang jadi bosan dan bakal cepat membangkang, setiap bertemu harus inilah, itulah, tidak boleh ginilah, harus begitulah. Ya,.. harus bersabarlah bila masih berstatus sebagai junior. Kembali handphoneku berdering dan ternyata dia lagi yang mengirim chat lewat facebook. Belum sempat aku membukanya, tiba-tiba handphoneku low-bath. Siaaaalll... :v
***
Efek liburan, kebiasaan di rumah dan di asrama berbeda 1800. Tidur pukul 23.30 bisa-bisa jadi pukul tiga pagi. Memang cuma lima hari dan tidak ada agenda berpergian. Online, online dan online. Di asrama “diharuskan” bangun jam enam, ternyata kendor menjadi jam sepuluh bila telah di rumah. Masalah perut juga sangat kacau, kadang sarapan

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel